Wednesday, October 24, 2018

Tempat Wisata di Semarang



Kita bisa menggunakan kereta api jika bergerak dari ibukota Jakarta, dengan harga tiket yang masih bisa dijangkau. Tiket Jakarta Semarang PP ini bisa didapatkan paling murah 250ribu perorang. Berawal dari Stasiun Gambir, Jakarta dan berakhir di Stasiun Poncol, Semarang.
Banyak tempat wisata menarik yang bisa dikunjungi di Semarang, diantaranya:
1. Taman Sri Gunting, Kota Lama
Bertempat di jalan Letjen Suprapto, Semarang. Merupakan taman untuk kegiatan berkumpul sambil duduk santai di kursi dan terdapat beberapa sepeda antik. Pada zaman Belanda digunakan untuk panggung parade.
2. Simpang Lima
Simpang lima adalah pertemuan lima jalan yaitu jalan Pahlawan, jalanPandanaran, jalan Ahmad Yani, jalan Gajah Mada dan jalan A. Dahlan. Tempat ini juga dijadikan lapangan atau alun-alun kota Semarang.
3. Vihara Sam Po Kong
Klenteng yang dikenal dimancanegara. Merupakan tempat persinggahan dari Laksamana Tiongkok Cheng Ho, yang disebut juga Gedung Batu. Bertempat di jalan Simongan, Semarang. Diadakan disini perayaan Imlek, hari kelahiran Cheng Ho disertai dengan arak-arakan, bazar dan  Barongsai.
4. Gua Kreo
Disini banyak monyet yang berkeliaran. Bertempat di Gunung Pati, Semarang dimana dahulu kala Sunan Kalijaga untuk mendirikan Masjid Agung Demak mencari kayu di sini. Banyak pohon besar dan rindang dengan mengalir sungai menjadikan kawasan yang sejuk.
5. Vihara Gunung Pati
Terletak jalan Kol. R. Warsito Soegiarto, Gunung Pati. Kita bisa mengunjungi vihara ini untuk sembahyang dan adanya altar Dhammasala. Sebelum sampai ke gua Kreo, kita bisa singgah disini.
6. Grand Maerakaca
Lokasi terletak jalan Anjasmoro - Tawangsari, Semarang. Grand Maerokaca terdapat taman mini berupa miniatur Jawa Tengah dan anjungan rumah khas dari 35 (tiga puluh lima) Kabupaten atau Kota.
7. Lawang Sewu
Dulu digunakan sebagai kantor perusahaan kereta api Belanda. Lawang Sewu mempunyai arti seribu pintu. Bangunannya mempunyai banyak pintu dan jendela. Lawang Sewu mempunyai ruang bawah tanah yang pada dahulu digunakan sebagai penjara. Beralamat di Komplek Tugu Muda, jalan Pemuda, Semarang.
8. Simpang Tugu Muda
Tugu Muda merupakan monumen yang berbentuk seperti lilin yang melambangkan semangat para pejuang yang tidak pernah padam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Berbentuk segi lima yang  terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu landasan, badan dan kepala. Di bagian kaki dari tugu yang terbuat dari batu ada relief dengan 5 (lima) buah sangga pilar yaitu relief Hongerodeem, relief Pertempuran, relief Penyerangan, relief Korban, dan relief Kemenangan. Terletak di sebrang Lawang Sewu.
9. Tempat Ibadah Tridharma Budi Luhur Sakti
Berada di jalan lingkar Tanjung Mas, Semarang. Bisa sembahyang disini dan setiap tahun baru Imlek diadakan ritual Poo Un atau menolak bala agar kehidupannya menjadi lebih baik. Ritual Poo Un atau tolak bala ini dilakukan dengan membakar replika kapal naga sepanjang 10 meter dengan lebar 2 meter di halaman depan klenteng.
10. Rumah Makan Vegetarian Karuna
Jangan lupa makan vegetarian di rumah makan Karuna Jalan Depok, Semarang. Jam buka dari pukul 09.00 WIB hingga 21.00 WIB. Untuk makan all u can eat, ada beberapa kali dalam hari tertentu dengan harga terjangkau.
11. Wingko Babat Semarang
Oleh-oleh khas Wingko Babat Semarang, panganan yang terbuat dari Tepung Ketan, Kelapa, Tepung Kanji, Gula Pasir, Santan Kental, Margarin, Daun Pandan menarik untuk dibawa pulang.


Yuk singgah ke Semarang. Ngga bakal nyesal deh.

Ini ceritaku, mana ceritamu.




Publish on:
https://www.kompasiana.com/wily_wijaya/5ab3777ddd0fa84bd646ee12/kapan-aja-bisa-dengan-airy


Kuliner seputaran kegiatan ICD, Jogja




            Ini nih perjalanan kegiatan Kompasiana Penggila Kuliner di ICD Jogja, 13 Mei 2017. Berawal dari Plaza Ngasem, di dekat sini ada warung soto loh. Kemudian di lanjutkan di Angkringan Monjali, yah mie dan bandrek kegemaran para Kompasianer yang ngumpul dua hari berturut-turut di sini. Disusul gudeg ya menu makan pagi selama dua hari, hehe.. jangan bosan ya.
            Dilanjutkan ke booth ICD yang laris manis itu menu tradisional dalam bentuk kue-kue basah dan kering. Tak lupa kopi purwoceng juga menjadi idola di booth ini, jozz. Kemudian ada juga jamu, mbok jamu-jamu. Ada jamu paitan, sirih, beras kencur, kunyit asam juga temulawak. Jamu ini sempat menjadi eksis di warga KPK dan sekitarnya yang ingin mencoba. Ada juga bule-bule nih nyobain jamu. Ternyata semua pada ingin foto sama si bule-bule, weleh-weleh. Taklupa yang menjadi sasaran empuk si pemilik jamu, mas Nurul, mas Wisnu, mas Wahyu, bapak Rahab dan kawan-kawan menjadi korban. Disuruh minum jamu paitan alias brotowali segelas kecil. Wakakak.. asli bener pait. Belum lagi mas Rizky yang diajak minum jamu, rupanya seru sendiri, selfie sebelum minum.
            Tak pula perlombaan makan entik, ya rupanya ubi dan pisang rebus disuruh habiskan berlima. Alhasil semuanya menang dan dapat hadiah. Semuanya senang ada kopi didalamnya. Tak lupa menu ayam Jawa mengakhiri makan malam di ICD. Jangan lupa juga membeli bakpia sebagai oleh-oleh tangan.
Sekian dan terima kasih.
Sampai ketemu di kuliner selanjutnya.




Published on:
http://www.kompasiana.com/wily_wijaya/kuliner-yang-ada-di-seputaran-icd-jogja_5929728cb292734e6e3ba37b




Indonesia Community Day, 2017



 Kilas balik yuk..


Indonesia Community Day (ICD) diselenggarakan pertama kalinya di tahun 2017 oleh Kompasiana sebagai ajang apresiasi dan ekspresi untuk seluruh komunitas yang ada di Indonesia. Mengangkat tema “Inspiraksi”, ICD 2017 mengajak seluruh penggiat komunitas di Kompasiana dan Indonesia untuk berbagi inspirasi dan aksi dengan menciptakan dan menyebarkan konten serta aksi positif. ICD 2017 diharapkan bisa menjadi wadah bagi komunitas se-Indonesia untuk bisa saling mengenal, tatap muka dan berbagi inspirasi serta cerita dalam suasana yang penuh kehangatan dan kekeluargaan.
            Bergerak dari satu kota ke kota lainnya, akhirnya tibalah di bumi Jogjakarta. Langsung menuju ke Plasa Ngasem tanggal 12 Mei 2017 sekedar hanya melihat-lihat dan kemudian ke Meriba Homestay, tempat nginap para Kompasianer yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Posisi Kompasianer yang datang dengan menggunakan Bus Pariwisata tiba 13 Mei 2017 dini hari. Disini mendapat mendapat teman-teman baru yang sama-sama hobinya menulis atau ngeblog. Di mulai dari Mbak Ya Yat, Mas Rahab, Mas Wahyu, Pak Iskandar, Bu Marla, Zulfikar, dan masih banyak lagi Kompasianer yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Pastinya repot mengumpulkan dan mengurus semua anggota ini. Hehe. Setelah beristirahat sejenak bergerak jam 09.00 WIB pagi menuju Plasa Ngasem untuk mengikuti ICD. Hore.
Bertempat di Plasa Pasar Ngasem, jalan Polowijan No. 11, Patehan, Kraton, Yogyakarta.  Kegiatan ICD ini dimulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB. Dimana 1.000 (seribu)  pendaftar online berhak mendapatkan merchandise buff eksklusif ICD 2017. Rencananya, kegiatan ini akan diadalan setiap tahun. Acara ini terselenggara oleh Kompasiana dan Tribun Jogja.
Kata sambutan dari CEO Kompasiana Bapak Andi Gunawan dimana acara ICD ini merupakan salah satu acara Kompasiana yang berlangsung tahun ini disamping Kompasianival. Dilanjutkan oleh Bapak Ir. Roni Trimanto yaitu Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika DIY. Dikatakan kita bisa belajar banyak hal dengan berkomunitas, dalam berkomunitas banyak ilmu yang bisa diambil.
Dalam ICD 2017 ini ada 27 (dua puluh tujuh) Komunitas menginspirasi yang turut serta yaitu GARDU ACTION JOGJA “Komunitas yang fokus pada pengelolaan bank sampah yang diolah sedemikian rupa kemudian dijadikan inspirasi dan penciptaan tempat sebagai destinasi wisata baru bagi masyarakat”, JARINGAN INFORMASI LINGKAR MERAPI (JALIN MERAPI) “Komunitas yang berbagi tentang pengelolaan informasi merapi dengan mendayagunakan berbagai media komunitas”, PAPERMOON PUPPET THEATRE “Teater boneka kontemporer di Indonesia yang melakukan eksperimen seni dengan menggunakan teater boneka sebagai medianya” PAGUYUBAN FILMMAKER JOGJA “Komunitas yang mewadahi silaturahmi dan komunikasi para pembuat film di Yogyakarta yang kreatif dan produktif, baik melalui karya maupun dalam berkarya”, KETJILBERGERAK “Komunitas dan wadah kreasi artisan atau seniman muda Jogja yang fokus pada perluasan isu kebhinekaan, pendidikan, perdamaian dan ruang publik dengan metode seni yang dilakukan secara kolaboratif ataupun independen”, JAZZ MBEN SENEN “Komunitas tempat berkumpulnya para musisi, pecinta serta penikmat musik jazz di Bentara Budaya Jogja setiap hari Senin malam” INSTITUT MUSIK JALANAN (IMJ) “Wadah bermusik bagi musisi jalanan di Kota Depok”, IMJ melakukan pembinaan kepada para musisi jalanan sehingga bisa berkarya selayaknya musisi profesional”, K-JOGJA “Komunitas Kompasianer (penulis/blogger Kompasiana) yang berasal dari kota Yogyakarta”, MASYARAKAT DIGITAL JOGJA (MASDJO) “Komunitas pegiat dunia digital (buzzer, kreator konten, dan blogger) yang peduli dan fokus pada kondisi sosial di Jogja, serta mengangkat informasi tentang Jogja”, KOMUNITAS JENDELA JOGJA “Komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan alternatif, terutama terkait minat baca anak”, FIKSIANA COMMUNITY + KUTUBUKU;  FIKSIANA COMMUNITY: “Komunitas penulis dan pecinta fiksi di Kompasiana” dan KUTUBUKU “Komunitas Tulis Ulas Buku, komunitas yang bergerak untuk memajukan literasi di Indonesia”. MEDICAL SOCIAL COMMUNITY “ Komunitas yang bergerak dalam bidang medical (medis) dan social (sosial) yang mencakup bidang rescue (swadaya bencana) dan study (pendidikan), sekaligus menjadi wadah bagi relawan yang sadar dan peduli terhadap sesama”, SIOUX ULAR INDONESIA “Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli dengan konservasi ular di Indonesia, serta memberikan edukasi tentang cara penanganan ular kepada masyarakat”, KPK, KOPROL, LADIESIANA; Kompasianer Pecinta Kuliner (KPK) “Komunitas penulis Kompasiana yang suka berwisata kuliner”, LADIESIANA: “Komunitas yang peduli dengan isu dan tema yang terkait dengan perempuan, anak dan minat keperempuanan lainnya”, KOPROL “Tempat berbagi cerita tentang olahraga di Kompasiana”, KOPLAK YO BAND “Komunitas Kompasianer dan blogger yang mengakrabkan diri dengan ngobrol humor dan koplakan”, BOLANG “Komunitas Kompasianer (penulis/blogger Kompasiana) yang berasal dari kota Malang, Jawa Timur”, KOMUNITAS KAMPOENG HOMPIMPA “Komunitas sosial budaya dan pendidikan yang menggunakan media permainan tradisional untuk melestarikan kearifan lokal”, KOMUNITAS LUBANG JARUM “Komunitas fotografi alternatif yang beraktivitas dengan mengandalkan kamera lubang jarum (pin hole) yang terbuat dari kaleng”, RTC & KOMPAL; RTC (Rumpies The Club) “Komunitas tempat berbagi menulis fiksi bersama sahabat lewat slogan Rumah Pena Sahabat”, KOMPAL “Komunitas Kompasianer (penulis/blogger Kompasiana) yang berasal dari kota Palembang”, FORUM KOMUNIKASI DAERAH KOMPAS GRAMEDIA DIY “Komunitas tempat berkumpulnya unit-unit bisnis dari Kompas Gramedia Grup di kota Jogja dan Solo”, SANGGAR SENI RNB “Kelompok seni yang fokus terhadap pembelajaran, pengembangan dan penciptaan berbagai macam bidang kesenian”, SAUNG MIMPI “Komunitas pendidikan yang memperkenalkan berbagai macam profesi ke anak-anak dengan metode kreatif”,  NADA BICARA “Lewat NADA, kami BICARA Keberagaman, Kesetaraan, dan Keberpihakan pada Perempuan dan Anak” dan KOMUNITAS ROEMAH TOEA “Komunitas yang bergerak dalam bidang konservasi dan observasi bangunan bersejarah” dimana masing-masing komunitas terpisah dalam booth, dan mereka akan unjuk gigi disini.
Di akhir acara pengumuman Award bagi aktivitas booth yang paling menarik diberikan kepada Komunitas Hompimpa dan berhak mendapatkan hadiah sebesar Rp. 1,5 juta. Best Kompasiana Community diperoleh blogger Kompasiana Malang (BOLANG) berhak mendapatkan hadiah senilai Rp. 5 juta. Best Community Movement diperoleh Ketjil Bergerak dan berhak mendapatkan Rp. 5 juta.
Kembali ke penginapan setelah acara berakhir karena 14 Mei 2017 jam 14.00 harus kembali mengikuti rute Jogjakarta - Jakarta setelah sebelumnya jalan-jalan di beberapa tempat di Jogjakarta.

Sampai ketemu di acara Kompasiana selanjutnya.
Salam Inspiraksi.


Publish on:
http://www.kompasiana.com/wily_wijaya/indonesia-community-day-jogjakarta-13-mei-2017_592878108e7e61357cab6ee8




Kuliner yang ada di seputaran ICD Malang




Sekian hari setelah ICD Malang baru cerita bisa dituliskan.  Tanggal 03 Agustus 2018, sepur bergerak dari Jakarta menuju Malang untuk mengikuti Indonesia Community Day 2018. Hore.. Tiba di Stasiun Malang jalan Trunojoyo No. 10 Klojen tanggal 04 Agustus 2018 pukul 10.08 WIB.

Pertama sekali setelah sampai di kota Malang, kami makan di Bakso President beralamat di jalan Batanghari No. 5 Klojen. Terletak di tepi rel kereta api dengan sensasi makan bakso bergetar. Bakso ini ramai didatangi pengunjung. Menyediakan bakso biasa, bakso urat, bakso telur, bakso bakar, bakso goreng, bakso udang ditambah dengan pangsit. Boleh minum teh botol, air putih atau kunyit asam. Rasanya mengguncang selera.

Menyempatkan diri untuk makan kue sekedarnya dan ngeteh di hotel Alimar, jalan Pasar Besar No. 58 Klojen. Sementara yang lain berangkat ke Batu dan istirahat di home stay. Kue pastelnya enak loh. 

Kalau yang ini oleh-oleh yang dibawa teman-teman dari Jakarta, Bandung, Madiun dan dari Malang juga. Ada dodol, kacang, ue balok, rengginang dan lain-lain. Untuk dimakan ramai-ramai enak ini, apalagi ada yang sampai kehabisan kue Balok asal Bandung. Hihi.. maaf ya.

Sepakat untuk menginap selama dua hari di home stay jalan Saxophone. Disini ada layanan Warung Puss, tinggal telpon datang deh makanannya. Murah meriah, tapi rasa tidak kalah loh. Ringan di kantong. Mulai dari nasi pecel, nasi tahu tempe dan lain-lain. Hati-hati pedas. 

Pagi-pagi tanggal 05 Agustus 2018 berangkat pagi mau lihat Zumba. Isi perut dulu ya di depan Taman Krida Budaya, jalan Soekarno Hatta No. 7 Lowokwaru. Mulai dari lontong sayur, nasi pecel, nasi campur dan nasi kuning. Dijamin pas dikantong dan di lidah. 

Lanjut makan siang di Ayam Bawang Cakper, jalan Soekarno Hatta No. 7 Lowokwaru. Hematnya disini disesuaikan harga anak kampus alias mahasiswa. Tidak mahal tapi kualitas tetap di jaga. Buka 24 jam, dan sudah mempunyai banyak cabang. Bisa pilih menu ayam atau ikan, teh manis atau jeruk tinggal ambil di lemari es. Ada sambal dan kerupuk juga. Jangan lupa bayar di kasir. Ayamnya nikmat, menggoda selera. Bisa duduk di kursi atau lesehan, tempatnya luas juga ada area parkirnya. Puas deh.  

Lari sejenak ke Waroeng Madhang Asap, Spesial Roemah Asap Malang jalan Perusahaan No. 23 Singosari. Buka dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam. Dimulai dari bebek asap, belut asap, ayam asap dan lain-lain yang diberi bumbu racikan dan diungkep selama 24 jam baru dilakukan pengasapan hingga 16 jam. Sambal yang pedas. Sungguh menu baru yang enak di lidah. Boleh dicoba. 

Kembali ke acara ICD, di booth Bolang ada kopi, gratis kopi Malang. Rasanya enak. 

Tak lupa nasi Bakar bunda Lilik dan pie hadir disini. Silahkan dibawa dan dirasa. Pie-nya enak dan renyah. Terima kasih mak, kapan-kapan kami kembali. Sedangkan nasi Bakar 4 bungkus tak tercicipi (diserahkan ke Tamita, Syifa, Pak Thamrin dan Pak Isson tolong komen ya, hehe, terima kasih). 

Lanjut kumpul-kumpul anggota Bolang dan kepala suku minum kopi dan cicip nasi bakar atau sekedar bercengkrama. Kalau kami nimbrung untuk foto saja. Terima kasih. 

Tak luput disini ada bagi-bagi es krim gratis dari Campina. Syaratnya mudah hanya follow Instagram Campina dan foto deh di IG kita. Terima kasih, Campina. Terik-terik begini jadi adem makan es krim. 

Sebelum kembali ke Jakarta menyempatkan diri untuk makan Soto Babat dan Jeruk hangat dari Warung Soto Daging Babat Kloneeeng Pak Tepong, belakang Taman Balai Kota Malang. Harga cukup pas dikantong dan makanan yang disajikan pun lezat. 

Kue dadar dan kue cucur yang di beli Mas Malik (komen donk belinya dimana?) dibawa kepada kami menjelang naik ke kereta api Malang Jakarta. Jadi menu makan di sepur ini. Terima kasih ya Mas Malin. Kuenya enak. 

Nah cukup sekian saja dari Malang, sampai ketemu di ICD selanjutnya. 
Semangat. 


Published on:
https://www.kompasiana.com/wily_wijaya/5b7b3ae812ae942d18516b13/kuliner-yang-ada-di-seputaran-icd-malang




Tons of Real Happiness from Mitsubishi Xpander





WEB ID: MPVC6U5W


Keterangan lebih lanjut:

PT MITSUBISHI MOTORS KRAMA YUDHA SALES INDONESIA




          Tons of Real Happiness berton-ton kebahagiaan yang dibawa oleh Mitsubishi Xpander untuk keluarga Indonesia, demikian bunyi slogan dari Mitsubishi Xpander ini. Kira-kira ada apa yang dari arena Parkir Belakang Plaza Medan Fair, Jl. Gatot Subroto No.30 Medan Petisah, Kota Medan, Sumatera Utara, 20113. Ternyata ada Special Performance and Meet & Greet dengan Rifat Sungkar dan Zara Leola serta ada juga Automotive Talkshow Om Mobi bersama Fitra Eri, Ridwan Hanif dan Diandra Gautama. Acara berlangsung mulai tanggal 19, 21 dan 22 Oktober 2018 pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB  untuk hari Jumat, Sabtu dan Minggu.



          Selain itu ada juga hiburan di Mitsubishi Xpander: Tons of Real Happiness dimulai dari Kids Slide yaitu perosotan anak, Ferris Wheel yaitu kincir ria, Swing Carousel yaitu ayunan putar, Tetris Puzzle yaitu susun balok, 360 Slow Motion Video Booth yaitu video gerak lambat, Baloon Pool yaitu kolam balon, Carousel yaitu kuda putar, Mini Xpander Traffic Park yaitu Lintas Xpander ukuran kecil. Permainan ini menggunakan voucher kecil yang terdapat pada tiket masuk. Ada juga permainan menjatuhkan kaleng, lempar gelang besar dan lempar panah ke dinding. Permainan ini menggunakan koin yang diperoleh dari main tetris dan test drive. Juga tersedia booth foto berlatar Xpander dan booth makanan serta minuman. Ada booth Telkomsel dimana kita bisa tukar poin Telkomsel dengan membeli paket data Rp. 10.000,- terlebih dahulu. 1 tiket berlaku 1 orang dengan 5 tiket permainan dan 1 WEB ID bisa digunakan untuk 4 orang. Pokoknya puas deh main disini.


Test Drive






Lanjut ke area test drive, setelah menunjukkan SIM A, menanda-tangani formulir pengendara kita diberi kartu antrian, tiga buah koin untuk bermain games, juga goody bag dari Xpander. Bergerak menuju pagar antrian dan menunggu. Mitsubishi Xpander hadir dengan Sport Manual Transmission dan GLS Automatic Transmission dengan OTR Jabodetabek mulai dari Rp. 201.100.000,-. Pertama kalinya saya mengendarai mobil transmisi manual ini yang bisa diisi 7 penumpang. Sungguh berbeda dengan mobil diesel. Desainnya yang mewah membuat mobil ini tampil beda. Tempat duduk dan sandaran lengan yang nyaman saat berkendaraan. Ruang dalam mobil nyaris tak terdengar dari berisik para pengamen yang bernyanyi di area test drive. Tekanan pedal gasnya lebih ringan daripada mobil lain. Mobil stabil karena menggunakan Shock Absorber Valve dengan Quick Response. Keren deh. 


Bagi saya, event ini sangat baik dan juga produk Mitsubishi Xpander yang dapat memuaskan hati para pengendaranya. Terima kasih Mitsubishi. Jangan lupa datang ke Mitsubishi Xpander: Tons of Real Happiness di 4 (empat) kota selanjutnya. Tiket gratis, hanya perlu mendaftar di website www.tonsofrealhappiness.com. Dijamin seru abis deh.  


 Apa sih XPANDER Tons of Real Happiness (ToRH)?
XPANDER Tons of Real Happiness (ToRH) adalah rangkaian aktivitas dari kendaraan Mitsubishi Xpander untuk mensosialisasikan keunggulan dari kendaraan ini, salah satunya adalah Power”, yang divisualisasikan dalam kekuatannya menarik beban yang besar, yang direpresentasikan dengan Carousel / Komidi Putar. Selain dari sosialisasi tersebut, ToRH juga merepresentasikan bagaimana Xpander menjadi satu-satunya MPV yang mampu mempersembahkan berton-ton kebahagiaan melalui wahana Family Park yang disediakan bagi keluarga pecinta Xpander pada khususnya, dan keluarga Indonesia pada umumnya.

Ayo temukan dan bagikan berbagai kebahagiaan di Tons Of Real Happiness di kota kamu.








Monday, October 8, 2018

ICD 2018, Malang




Bertempat di Taman Krida Budaya, Malang tepatnya Jl. Soekarno Hatta No. 7, Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65142 diadakan Indonesia Community Day tanggal 05 Agustus 2018. Indonesia Community Day (ICD) kembali hadir sebagai ajang interaksi dan kolaborasi komunitas se-Indonesia. Dengan mengangkat tema “Kolaboraksi”, komunitas diajak untuk bergerak melakukan aksi positif melalui kolaborasi antar-komunitas dan pihak lainnya demi menjawab tantangan era yang kian dinamis.


Komunitas yang mengisi di ICD Malang 2018 yaitu:
BOLANG - Blogger Kompasiana Malang
Komunitas yang menjadi wadah bagi para penulis Kompasiana yang berasal dari Malang Raya dan sekitarnya.
KINEKLUB UMM
Kelompok studi sinematografi yang berhubungan secara koordinatif konstruktif di lembaga kemahasiswaan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang.
KOMUNITAS AKARTULI
Rumah bagi penyandang tuli di Kota Malang untuk berinteraksi, meningkatkan kapasitas bahasa, dan bersama-sama mengupayakan edukasi/public awareness tentang penyandang tuli pada masyarakat umum.
Full of Doodle Art (FODA) Malang
Komunitas tempat berkumpul individu yang menggemari aktivitas menggambar doodling.
BATU LOCAL GUIDES
Batu Local Guides merupakan komunitas kontributor Google Maps, yang aktif menjelajah Malang Raya dan menambahkan tempat-tempat baru di Google Maps.
REENACTOR MALANG
Wahana independen bagi para pecinta sejarah dan insan yang berminat untuk memvisualkan kembali peristiwa penting bersejarah.
INDONESIAN PARACORDIST
Komunitas di bidang seni gelang paracord, bead, dan simpul.
KOMUNITAS JENDELA MALANG
Bergerak di bidang pendidikan khususnya pada penumbuhan minat baca sejak usia dini.
Komunitas Organik Indonesia Chapter Malang
Komunitas para artisan dan petani keselarasan alam, organik, dan natural (Chapter Malang).
Komunitas Rajut Malang
Komunitas Rajut Malang dibentuk untuk memberikan wadah bagi para perajut dan pecinta rajut khususnya di Kota Malang dan sekitarnya. Saling bertukar ilmu dan mengembangkan keahlian dalam hal teknik merajut dan pengaplikasiannya menjadi bentuk produk siap pakai dan siap jual.
Koteka
Komunitas penggemar traveling dan kepenulisan wisata di Kompasiana.
Ladiesiana
Komunitas Kompasianer Perempuan yang aktivitasnya membahas isu/topik seputar dunia perempuan (kecantikan, fashion, parenting, karier, finansial, pengembangan diri, ibu bekerja, ibu rumah tangga, soft skill, dan lain-lain).
Malang Beatbox Community
Wadah/perkumpulan bagi para beatboxer di Kota Malang.
Malang Cat Lovers (MCL)
Komunitas atau perkumpulan para pecinta kucing di Malang Raya.
Malang Creators
Perkumpulan para konten kreator (Youtubers, Instagramers, Video atau Film) di Malang dan sekitarnya.
Rotaract Club Malang
Komunitas/club pelayanan bagi anak muda berusia 18-30 tahun yang berdedikasi terhadap pelayanan masyarakat dan internasional yang bergerak di area Kota Malang dan sekitarnya.
Rumpies The Club (RTC)
Grup yang menghimpun (Kompasianer) yang berminat di dunia sastra dan fiksi.
KM Tergerak Bergerak
Komunitas yang dibentuk oleh mahasiswa UB yang berfokus kepada lingkungan sekitar dan sosial masyarakat.
Walkingalam
Wadah bagi penggiat dan pecinta fotografi dokumenter di Malang.
Ngalam Community
Paguyuban Komunitas Se-Malang Raya
Makutel
Macaroni dan puding
Pemasangan Komponen Miniatur
Analisa dan Konsultasi Tubuh


Di pagi hari dimulai dengan Zumba pada pukul 07.00 WIB. Booth siap dikunjungi mulai pukul 09.00 WIB setelah pembukaan dari Bapak Emil Dardak. Foda Malang membuka sesi menggambar dan mewarnai Doddle pada pukul 08.20 WIB. Mengelilingi sejumlah booth dan dapatkan pengalaman menarik di dalamnya. Acara Indonesia Community Day ditutup pada pukul 20.40 WIB setelah pengumuman Community Award, Sosmed Competition dan pembagian Doorprize yaitu hasil pengumpulan 10 stempel dari semua booth yang ada. Booth yang memiliki stempel yaitu JNE, BRI, Bolang, Beatbox, Campina, Reenactor, Hokben, Kom Jendela, Ladiesiana dan Koteka. Stempel diberikan gratis hanya mengunjungi booth tersebut di atas. Di booth Campina kita diberikan stempel dan es krim gratis dengan posting event Campina di Instagram terlebih dahulu, dan di booth Hokben disini saya disuruh membeli satu paket Hokben terlebih dahulu baru bisa mendapatkan stempel.


Maju terus Indonesia Community Day.


Sampai ketemu di tahun mendatang.





Published on:

https://www.kompasiana.com/wily_wijaya/5bbb057ec112fe0d317c34cb/icd-2018-malang



Sunday, October 7, 2018

Museum Perumusan Naskah Proklamasi dalam Edutainment Indonesia Merdeka



Tanggal 23 September 2018, Museum Proklamasi bekerja sama dengan Komunitas Jelajah Budaya (KJB) mengadakan Edutainment Indonesia Merdeka. Komunitas Jelajah Budaya (KJB) merupakan komunitas yang peduli pada seni, budaya, bangunan tua serta peninggalan sejarah bangsa. Diadakan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi beralamat di Jl. Imam Bonjol No. 1, Jakarta 10310. Diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam 3 stanza, kata pengantar mewakili Museum Proklamasi dan dari KJB yaitu Bapak Kartum.


Gedung Museum didirikan pada tahun 1920-an dengan gaya Eropa. Memiliki luas tanah 3.914 m2 dan  luas bangunannya 1.138,10 m2. Perumusan Naskah Proklamasi ini dilaksanakan di bekas gedung kediaman Laksamana Tadashi Maeda beralamat di jalan Meiji Dori (sekarang jalan Imam Bonjol No. 1) dan berlangsung sebelum Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945. Pada tanggal 24 November 1992, gedung ini dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.


Ada 4 ruang penting dalam Museum yaitu ruang tamu Pertemuan, ruang Perumusan, ruang Pengesahan dan  ruang Pengetikan. Sisa ruang lain yaitu ruang Menjelang Proklamasi, ruang Sekitar Proklamasi, ruang Mempertahankan Kemerdekaan dan ruang Tokoh Yang Hadir.
  1. Ruang Pertemuan merupakan tempat peristiwa bersejarah yang pertama dalam persiapan Perumusan Naskah Proklamasi. Ruangan tersebut adalah ruang tamu yang juga digunakan sebagai kantor oleh Maeda.
  2. Ruang Perumusan adalah ruang makan dan tempat mengadakan rapat. Dini hari menjelang pukul 03.00 WIB. Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo memasuki ruangan ini dan mengitari meja bundar, sedangkan Soediro (mbah), dan B.M. Diah mengikuti dan duduk di ruang agak belakang.
Dengan demikian teks proklamasi menjadi sebagai berikut:
Proklamasi
Kami Bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnya.

                Djakarta, 17-8-05
                Wakil-wakil Bangsa Indonesia
  1. Ruang Pengesahan yaitu ruang dimana setelah konsep Naskah Proklamasi diutarakan kepada hadirin di serambi muka (ruang pengesahan/penandatanganan naskah Proklamasi). Soekarno mulai membacakan rumusan pernyataan kemerdekaan yang telah dibuat itu secara perlahan-lahan dan berulang-ulang. Setelah itu beliau bertanya kepada hadirin, setuju. Kemudian diulang lagi pertanyaan oleh Soekarno, Benar-benar semua saudara setuju? Jawabannya adalah sama yaitu, “setuju”.
  2. Ruang Pengetikan yaitu ruang dimana setelah mendapat persetujuan dari hadirin, Soekarno meminta agar Sayuti Melik mengetik Naskah Proklamasi. Sayuti Melik mengetik Naskah Proklamasi di ruang bawah tangga dekat dapur dengan ditemani oleh B.M. Diah.
Konsep naskah proklamasi diketik oleh Sayuti Melik dengan mengadakan perubahan tiga kata, yaitu kata “tempoh” menjadi “tempo”, kata “Wakil-Wakil Bangsa Indonesia” menjadi “Atas Nama Bangsa Indonesia”, begitu juga dengan penulisan hari, bulan dan tahun.
            (Referensi: 4 ruang penting dalam Museum dikutip dari: http://munasprok.or.id/)


Setelah mengelilingi ruangan yang ada di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, diadakan perlombaan Edutainment Indonesia Merdeka. Kelompok dibagi berdasarkan pertanyaan dan jawaban setiap dua orang dan ada lima pasang dalam satu kelompok yaitu peristiwa Bandung Lautan Api. Di setiap kelompok ada 10 orang peserta.


Pertama sekali setiap kelompok disuruh membuat perahu sekoci dengan selembar kertas sehingga semua anggota kelompok bisa masuk didalamnya. Kertas dan gunting digunakan untuk  membuat lingkaran tanpa terputus. Diberikan amplop sesuai urutan untuk melanjutkan permainan. Jadilah kami masuk dalam kelompok Bung Tomo. Perlombaan dimulai yaitu mengangkat air dalam gelas plastik dengan karet yang diikat tali plastik pada 4 penjuru dan membawa ke arah tengah halaman (foto pada gambar adalah foto kelompok lain). Kemudian menghafalkan teks Proklamasi (tidak ada foto). Dilanjutkan dengan tebak kata dan memperagakannya tanpa berbicara (aduh, kena saya yang peraga hehe dan foto pada gambar sebelum masuk ke ruang tebak kata) dan terakhir memasangkan bait lagu Indonesia Raya dalam 3 stanza (foto pada gambar adalah hasil susunan kelompok Bung Tomo). Disini dibutuhkan kesabaran dan kekompakan tim. Walaupun tidak saling kenal tetapi tetap kompak. Dan kita dapat keseluruhan amplop ada 4 yang berisi potongan-potongan tugas terakhir. Ternyata kita harus foto di bunker atau ruang bawah tanah di halaman belakang. Dan jreng-jreng misi selesai. Acara dilanjutkan makan siang, kuis dan pembagian hadiah juara 1 dan 2.


Kalah menang itu biasa, yang penting kita sudah berusaha.


Semangat dan Merdeka!





Published on:
https://www.kompasiana.com/wily_wijaya/5bbae29312ae9418d06e3243/museum-perumusan-naskah-proklamasi-dalam-edutainment-indonesia-merdeka


Museum dan Rumah Multatuli, Rangkasbitung



Tanggal 22 September 2018 yang lalu bersama ClicK (CommuterLine Community of Kompasiana) mengadakan kunjungan ke Museum dan Rumah Multatuli, Rangkasbitung yang dimulai pukul 11.30 WIB. Ini kali pertamanya ikut ClicK. Museum Multatuli ini terletak Jl. Alun-Alun Timur No. 8, Rangkasbitung Barat, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten 42312. Kita bisa naik KA Commuter line (Kereta Rel Listrik) untuk sampai disini. Jurusan yang dituju Rangkasbitung, Banten melalui Stasiun Tanah Abang, Jakarta.


Museum dahulu dibangun sekitar tahun 1920-an yang merupakan bekas kantor dan juga merupakan kediaman Wedana Lebak. Museum Multatuli diresmikan penggunaannya oleh Bupati Lebak mulai tanggal 11 Februari 2018. Eduard Douwes Dekker merupakan nama asli dari Multatuli. Lahir di Amsterdam pada tanggal 02 Maret 1820. Bertempat tinggal di Rangkasbitung sejak Januari sampai dengan Maret 1856. Merupakan asisten residen Lebak. Novel yang pernah dituliskan Multatuli pada tahun 1860 yang berjudul Max Havelaar. Praktek pemerasan yang dilakukan oleh bupati setempat terhadap rakyat Lebak merupakan pengalaman pahit yang telah menginspirasi novel Max Havelaar. Max Havelaar inilah yang menjadi simbol dari inspirasi pembebasan di negeri terjajah.


Pemerintah Kabupaten Lebak membuat kerja sama dengan Perhimpunan Multatuli (Multatuli Genootschap) di Belanda untuk membuat duplikat sejumlah dokumen Eduard Douwes Dekker. Pada halaman luar museum terdapat patung Multatuli, patung Saijah dan Adinda yang merupakan karya Dolorosa Sinaga. Saijah dan Adinda merupakan tokoh dalam novel Max Havelaar. Kepala patung Multatuli terdapat di pintu masuk utama. Dari tempat ini dikenal dengan kopi. Ada juga karya W.S. Rendra menerbitkan puisi yang berjudul Orang-Orang Rangkasbitung. Dilengkapi dengan perpustakaan untuk menambah minat baca dari warga Lebak dan Banten. Museum Multatuli mempunyai tujuh ruangan dengan empat segmen. Segmen pertama menunjukkan tentang sejarah masuknya kolonialisme di Indonesia, segmen kedua menunjukkan tentang Multatuli dan Max Havelaar, segmen ketiga menunjukkan tentang sejarah Banten dan Lebak dan segmen keempat menunjukkan tentang sejarah Rangkasbitung.


Rumah Multatuli berada di bagian belakang Rumah Sakit Umum Dr. Adjidarmo, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Sebelum sampai di sini, kita akan melewati alun-alun Rangkasbitung. Bangunan rumah Multatuli kini tak terurus. Pintu dan atap mulai rusak dan roboh. Hanya tinggal tembok yang masih berdiri kokoh. Lahan depan kini dipakai untuk parkir kendaraan. Akan sejarah ini berlalu?




        Mari kita lestarikan peninggalan sejarah di Indonesia.



Publish on: 
https://www.kompasiana.com/wily_wijaya/5bba18616ddcae40461b8a54/museum-dan-rumah-multatuli-rangkasbitung



Friday, October 5, 2018

Kuliner dan Nonton Bareng Aruna dan Lidahnya




Pada tanggal 29 September 2018 yang lalu berawal dari kumpul di Pasaraya Blok M, Jakarta pukul 09.30 WIB. KOMiK (Kompasianers Only Movie enthus(i)ast Klub) yaitu Komunitas Kompasianer Pecinta Film mengadakan Nontong Bareng. Tapi sebelumnya kita intip dulu kuliner kelompok 1 dimulai pukul 10.10 WIB setelah foto bersama. Kelompok ini beranggotakan Wily, Yogi dan Maria disusul Humaedy.


Pertama sekali yang kita mencicipi kue ape dari gerobak dorong, cukup murah hanya Rp. 1.500,- per buah. Buat mengganjal perut bolehlah. Menyusuri jalan Wijaya IX. Lanjut dengan bubur ayam Boga Rasa seharga Rp. 10.000,- yang menggugah selera dengan dua gelas minuman jeruk dengan Rp.3.000,- untuk satu gelasnya. Yummy.


Bergerak mengelilingi ujung jalan es krim durian Priangan. Aku suka sekali durian. Harganya Rp. 12.000,- tak membuat kantong bolong. Kemudian saya disodorkan kue laba-laba hanya satu, dan rasanya seperti biskuit rapuh. Enak dan cuman Rp. 5.000,- per buah. Terakhir saya mencicipi es kopyor Sumairah seharga Rp. 25.000,- es kelapa yang seger banget. Setelah selesai ke Blok M lantai 5 untuk Nobar. Hore. Film pun di mulai pukul 12.15 WIB.


Nonton Bareng Aruna dan Lidahnya yang mulai tayang di bioskop 27 September 2018. Official Trailer dari Palari Films. Wah, baru kali ini nonton bareng sama anak-anak KOMIK. Acaranya sehari sebelum saya pulang ke Medan. Asyik.


Aruna, yang doyan makan. Sosok wanita mandiri yang hobi makan, tepatnya merasakan menu makanan baru yang enak di lidah. Padahal awalnya cuman pengen tahu menu rahasia nasi gorengnya si mbok yang berasal dari Mama Aruna. Berprofesi sebagai investigator yang harus turun ke lapangan sesuai dengan permintaan perusahaan.
Bono, yang suka masak. Senang mencoba masakan baru dan mencari resep-resep baru dalam setiap masakannya.
Nad, yang suka berpetualang. Seorang penulis, menyukai tantangan, travelling dan juga pencinta makanan.
Farish, yang serius. Seorang dokter dan juga mantan rekan kerja Aruna yang pindah ke perusahaan lain.


 Suatu hari, Aruna dikirim dari perusahaan untuk menyingkap kasus investigasi di beberapa kota yang terjadi flu unggas meliputi kota Surabaya dan Singkawang.  Berdua dengan Bono merencanakan perjalanan kuliner mereka. Rupanya setelah sampai di Surabaya, Bono ternyata juga mengajak Nad turut serta dalam kuliner mereka. Sedangkan Farish ditugaskan dari perusahaannya untuk membantu Aruna.
Menggabungkan kuliner di sela-sela pekerjaan, kenapa tidak? Selama tugas pekerjaan bisa di pertanggung jawabkan. Semua orang butuh makan dan kuliner yang enak di lidah.
Dalam kisah ini diceritakan tentang arti persahabatan dan percintaan yang disatukan dengan menu makanan. Mencoba mencari resep baru dan kemudian dibuat serta dijual kembali, rasanya ini sungguh usaha kuliner yang merambah dunia wirausaha saat ini. Pada akhirnya setelah semua kejadian berlalu, cinta sejatilah yang datang menghampiri Aruna dan Farish, juga Bono dan Nad.


        Jangan lupa tonton di bioskop kesayangan Anda.


        Kuliner? Siapa takut.


Published on:


https://www.kompasiana.com/wily_wijaya/5bb75866aeebe178ae0636a7/kuliner-dan-nonton-bareng-aruna-dan-lidahnya